Kota Ini Belum Mau Mati

Hari-hari membuat kepalaku berputar di tombol tiga, kota ini belum mau mati. Akhirnya malam ini tubuhku tidak dibasahi oleh keringat, tapi air laut, dalam selimut biru. Seorang anak mampu membayangkannya, sebuah bidang datar memotong matahari, langit dan pohon kelapa—terkunci tali temali dalam sebuah potret, sebuah upaya agar kenangan tidak terulang lagi, sebuah jebakan, penjara atau tong sampah. Rerumputan rebah dan basah, seekor merpati hinggap pada dini hari di atas tempat tidur. Aku tahu ada hujan di sudut lain di kota ini, sobekan-sobekan koran yang merekam sejarah dan mimpi. Tapi aku lihat kelelawar bertualang di langit-langit kamar, aku sedang mencari cara untuk menemukan hari yang baru, mencoba berjalan di pulau tropis dengan lantai yang dipenuhi tundra dan hari-hari biru yang membuat bola mata semakin jernih dan membesar. Kesepian turun dari langit, lumpur membanjiri kotaku. Sementara aku tertawa, aku bermain musik, aku terancam tenggelam di lantai kamarku sendiri! Betapa berat seorang gadis kecil memanggul batu di ranselnya. Mesin tua yang menenggak solar terakhir. Dan kini di tembok. Di tembok. Di samping lemari dan kaca yang retak. Begitu asing sebuah gitar, berdebu dan tanpa suara… di kamar, seorang lelaki melepaskan wajah, bibir, dan lidahnya setelah menempuh perjalanan jauh. Tapi saat kepalaku berhenti berputar, aku kehilangan sebuah selimut. Dan seekor kelelawar mengudap buah apel yang tumbuh di saku bajuku. Rahasiaku begitu manis, ia bisa membusuk jika aku tidur terlalu nyenyak. Sementara kota ini belum mau mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s