Singa Tua yang Tidur di Depan TV

Di depan tv aku temukan seekor singa tidur. Perutnya ditumbuhi bukit dan jelatang. Aku mengenalnya dua puluh enam tahun lalu. Singa tua yang digulung rumput, mendengkur setelah pulang jalan-jalan di tengah badai lima puluh tahun.

Di atas tidurnya aku lihat mimpi-mimpi,
buku teks pelajaran tentang cinta dan pohon,
diktat seni dan kesepian, rujak dan seorang anak lelaki keras kepala,
sambal terasi dan sirup jeruk dan susu,
sarapan pagi, dan musik elektronik dari ibu kota.
Sementara tv masih bicara Jakarta,
aku tengah makan malam
dan menyaksikan singa itu berusaha menghardik demam
yang berusaha menggetarkan mimpinya.

Kadang derit pintu terbuka mengejutkannya seperti seekor kucing betina yang waspada, lima puluh tahun telah melatihnya tetap terjaga, membuat jantungnya menjadi apel dalam kurungan api. Waktu bukan lagi ancaman, tapi mainan, sebuah bola atau gulungan benang kusut atau globe yang dilapisi daftar indeks dan judul berita koran pagi. Ia menjadikan keluhan sebagai taman bermain bagi kanak-kanak… di sana, di dalam kepala dan tidurnya. Dan musik, aku bisa mendengar suara gitar keluar dari tenggorokannya.

Apakah singa itu suka bicara? Tidak, ia lebih suka lari-lari kecil di bawah jam dinding atau mengelilingi ruang tamu. Jantungnya melompat dengan ringan, seperti percikan hujan di atas lantai bulan Oktober.

Singa tua itu sudah tidur. Sedang mengudap malam, menelan perasaan cemas dan ketakutan. Suatu hari aku melihat ia bertarung melawan hyena. Suatu hari saat aku masih kecil dan akhirnya tahu apa arti dari gigitan dan cakaran itu. Atau paling tidak di masa lampau, aku dapat menemukan cara bagaimana mengenakan sepatu dan memasang lidah. Aku baru saja pulang dari kebun binatang, sebuah taman, atau sebuah kota, atau Jakarta—dari jalan-jalan yang disesaki kesedihan dan gelak tawa, hari-hari yang kelabu dan hitam putih, nyanyian tentang hujan dan putus asa yang diputar hampir di seluruh stasiun radio. Bertahun-tahun kemudian aku tidak begitu yakin kalau perutku ditumbuhi hutan dan kota, sementara singa tua itu berlarian di padang rumput, di sebuah taman teks tak terhingga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s